Jakarta, Bineka.co.id – Pemerintah menyiapkan pembangunan ekosistem peternakan terintegrasi dengan anggaran sekitar Rp17 triliun. Tahap awal program ini menyasar lima wilayah, termasuk Sulawesi Selatan, dengan Kabupaten Bone disiapkan sebagai salah satu kawasan pengembangan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan program tersebut dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

Lima wilayah yang masuk tahap awal pengembangan yakni Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Gorontalo. Pemerintah mengalokasikan Rp2,2 triliun untuk pembangunan di lima kawasan tersebut.

“Anggarannya sudah turun, Pak Presiden sudah tanda tangan Rp2,2 triliun untuk lima. Total anggaran yang dipersiapkan sekitar Rp17 triliun, tetapi bukan di sini saja,” kata Amran di Jakarta, Minggu (27/9/2026).

Menurut Amran, pembangunan di lima kawasan tersebut ditargetkan rampung pada 2027. Administrasi dan dukungan anggaran disebut telah diselesaikan sehingga pembangunan fisik dapat segera berjalan.

“Sudah beres-beres. Targetnya tahun depan selesai. Administrasinya sudah selesai, anggarannya juga sudah selesai. Yang penting selesai dulu,” ujarnya.

Bukan Sekadar Sentra Peternakan

Pemerintah tidak merancang kawasan tersebut hanya sebagai lokasi produksi ayam atau telur. Konsep yang disiapkan mencakup rantai peternakan dari hulu hingga hilir.

Ekosistem itu akan menggabungkan industri pakan, pembibitan atau day-old chick (DOC), budidaya ayam, produksi telur, hingga pengembangan sapi perah dan susu.

Skema tersebut juga dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah menempatkan program MBG sebagai salah satu penyerap atau off-taker produksi ayam, telur, dan susu dari kawasan peternakan.

“Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu. Kemudian di sini produksi telur, ayam, susu,” kata Amran.

Dengan model tersebut, pemerintah ingin membangun rantai pasok yang lebih pendek antara produksi pangan dan kebutuhan konsumsi.

Bone Disiapkan Seluas 150 Hektare

Di Sulawesi Selatan, salah satu kawasan yang masuk dalam rencana pengembangan berada di Kabupaten Bone.

Kawasan tersebut memiliki luas sekitar 150 hektare dan diarahkan menjadi bagian dari penguatan rantai pasok peternakan di Sulsel.

Salah satu komponen yang akan dibangun adalah pabrik pakan. Bahan bakunya akan memanfaatkan produksi jagung dari Bone maupun daerah di sekitarnya seperti Soppeng.

“Ayam butuh pakan. Pakannya dari jagung. Jagung ini nanti dari Bone, Soppeng, kabupaten tetangga, dari mana saja. Karena ini yang menjadi pakan nanti,” ujar Amran.

Menurut dia, kedekatan antara sentra jagung dan pabrik pakan dapat memangkas biaya distribusi. Jagung tidak perlu dikirim terlebih dahulu ke daerah lain untuk diolah menjadi pakan sebelum kembali dibawa ke kawasan peternakan.

“Jadi dari hulu ke hilir ini holistik. Itu murah. Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan,” katanya.

Selain pabrik pakan, pemerintah juga menyiapkan fasilitas DOC untuk memperkuat pasokan bibit ayam di kawasan tersebut.

“Pabrik pakan juga akan dibangun lengkap DOC-nya, anak ayam. Tidak perlu lagi mengambil ke mana-mana. Ambil dari sini,” kata Amran.

Sapi Perah hingga Produksi Susu

Ekosistem peternakan yang disiapkan pemerintah juga mencakup pengembangan sapi perah dan produksi susu.

Amran mengatakan peningkatan produksi susu menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan pangan bergizi, terutama untuk anak-anak.

“Peternakan sapi itu sapi perah, susu. Kan butuh susu anak-anak supaya tinggi besar nanti,” ujarnya.

Pemerintah juga mengaitkan pengembangan ayam, telur, dan susu dengan agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Kenapa? Minum susu, telur, ayam dan seterusnya. Itu mimpi Bapak Presiden. Generasi kita adalah generasi cerdas nanti ke depan, sehingga mencapai Indonesia Emas,” kata Amran.

Jika terealisasi sesuai target, kawasan peternakan terintegrasi tersebut tidak hanya akan menjadi pusat produksi komoditas peternakan. Pemerintah juga mengharapkannya membentuk rantai ekonomi baru yang menghubungkan produksi jagung, industri pakan, pembibitan, peternakan, hingga penyerapan produk pangan.

Di Sulawesi Selatan, Kabupaten Bone menjadi salah satu lokasi yang diproyeksikan menjalankan rantai tersebut dengan dukungan kawasan seluas sekitar 150 hektare.