Oleh :

Ketua Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI) Sulawesi Selatan, Albertus Yap

Beasiswa bukan sekadar soal biaya pendidikan yang dibayarkan.
Lebih dari itu, beasiswa adalah surat pengakuan.
Sebuah pesan tegas bahwa kerja keras, disiplin, dan cinta Tanah Air adik-adik terlihat, dihargai, dan diakui.

Selain dukungan finansial dan apresiasi prestasi, sesungguhnya di dalam Beasiswa terselip, antara lain.:

  • Peluang memperoleh kesempatan mengembangkan diri (Mentorship),
  • Jaringan profesional (networking) semakin luas,
  • Mobilitas sosial lebih leluasa dan terbitnya pilihan masa depan lebih beragam dengan menjadikannya sebagai milestone untuk beranjak ke level pilihan selanjutnya.

Demikianlah mengapa “beasiswa” sering menjadi buruan banyak orang muda yang ingin berkembang lebih jauh dan lebih tinggi.

BEASISWA PERHIMPUNAN INTI

Bagi Cathlyn Yvaine Lesmana dan Meivylicha Putri Aurelia Kamal, beasiswa dari Perhimpunan INTI ini adalah bentuk apresiasi tertinggi.
Nilainya bukan di angka rupiah.
Nilainya ada di kebanggaan yang tumbuh di dada kalian, di dada orang tua, dan di dada kita semua.
Kebanggaan karena kalian sudah berani berproses, berani berjuang membawa nama Makassar.

Kebanggaan itu tidak bisa dibeli. Tidak bisa diganti dengan hasil seleksi apa pun.
Karena kebanggaan lahir dari karakter, dari keringat yang jatuh saat latihan, dari air mata yang kalian tumpahkan atau tahan saat hasilnya belum sesuai harapan.

HARAPAN YANG MENYERTAI

Lewat beasiswa ini, Perhimpunan INTI ingin menitipkan 3 hal:

  1. Pengakuan: Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) mengakui kalian sebagai tunas² muda berbakat. Dari pengurus pusat sampai daerah, kami semua melihat kalian. Pengakuan dari ketulusan hati karena terkesan oleh prestasi kalian yang terancam tersia-siakan dan tak diperdulikan namun kalian telah legowo untuk menerimanya.
  2. Kepercayaan: Kami percaya masa depan kalian masih panjang. Gagal di satu gerbang, bukan berarti gagal selamanya. Gerbang lain sedang menunggu dan mungkin itulah pintu gerbang sebenarnya yang disediakan Tuhan untuk kalian lalui. Sekalipun gerbang tersebut membawamu ke jalan yang jauh dari kandang sendiri. Namun, percayalah bahwa dibaliknya, akan kautemukan “arena bermain” baru yang lebih luas dan menarik, lebih bervariasi sehingga menantang kreatifitas serta otomatis memaksamu untuk mengeluarkan potensi dirimu yang masih dorman. Potensi seperti ini sering kali ternina-bobo dibanyak orang muda karena dimanjakan oleh proteksi dan previlese dari sistem atau dari individu yang memiliki kuasa melakukannya. Maka tetaplah bersemangat, teruslah mengasah kemampuan dan kemandirianmu dalam mengejar mimpi-mimpimu.
  3. Tanggung Jawab: Dengan pengakuan ini, datang tanggung jawab. Maka jadikanlah dirimu sebagai teladan. Buktikan bahwa anak muda Indonesia itu kuat, rendah hati, dan pantang menyerah. Kalian mungkin terpilih untuk tugas dan misi lain sehingga mengalami suatu keadaan seperti kali ini. Mari kita memaknai bahwa karena peristiwa yang baru saja berlaku, kalian kini sedang menjalankan misi jiwa membawa harapan bagi orang² muda lain yang gigih berjuang, telah maksimal menunjukkan prestasi dan kemampuannya namun masih dikecewakan oleh system atau situasi masyarakat yang tidak berpihak kepada mereka. Nyalakan saja Api harapan dan biarkan netizen, orang² yang bersedia mengapresiasi serta media untuk mengangkat terang yang bersinar dari “api” kalian agar dapat dilihat oleh mereka yang sedang bergumul supaya terbebas dari gelapnya situasi yang melingkupi mereka. Jika mereka percaya dan memiliki harapan maka itu akan menularkan daya juang dan daya tahan (resilience) kepada mereka.

Jadi adik-adik, jangan lihat beasiswa ini hanya sebagai bantuan uang sekolah. Lihatlah ini sebagai pelukan dari Indonesia.
Pelukan dari Perhimpunan INTI yang membisikan :
“Kami bangga padamu. Teruslah melangkah. Merah Putih menunggumu di puncak yang lebih tinggi.”

Salam NKRI.
Salam Integritas.