Makassar, Bineka.co.id – Kisah cinta Sherly Fanny Kondoh dan mendiang suaminya, Hajime Kondoh, seorang pria asal Jepang yang pernah tinggal serta berkarier di Indonesia, diangkat ke layar lebar melalui film Baby Udon.

Diproduksi Sumargo Films bersama LYTO Pictures, Baby Udon menghadirkan cerita yang tidak berhenti pada romantisme hubungan Fanny dan Hajime. Film ini turut menggambarkan perjalanan keduanya dalam membangun rumah tangga, menanti kehadiran buah hati, hingga menghadapi ujian berat ketika Hajime harus berjuang melawan penyakit kanker.

Semasa hidupnya, Hajime dikenal pernah berkarier di industri kuliner Indonesia. Ia salah satunya pernah menduduki posisi General Manager di Marugame Udon.

Perjalanan hidup Hajime dan Fanny kemudian menjadi kisah yang sarat dengan nilai kemanusiaan. Di dalamnya terdapat cinta, harapan, perjuangan, doa, hingga proses menerima dan mengikhlaskan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai keinginan.

Denny Sumargo Awalnya Tak Disiapkan Perankan Hajime

Menariknya, karakter Hajime dalam Baby Udon diperankan langsung oleh Denny Sumargo yang juga terlibat sebagai produser eksekutif film tersebut.

Denny mengungkapkan bahwa dirinya bukan pilihan pertama untuk memerankan Hajime. Ia sempat menawarkan karakter tersebut kepada sejumlah aktor Indonesia. Namun, keterbatasan waktu membuat para aktor yang ditawarkan tidak dapat mengambil peran tersebut.

“Karakter Hajime ini awalnya harusnya bukan saya yang main. Saya sempat menawarkan ke beberapa aktor Indonesia, cuma masalah waktu akhirnya tidak bisa,” ujar Denny dalam konferensi pers setelah kegiatan nonton bareng dan meet and greet bersama cast Baby Udon di XXI Nipah Mall Makassar, Sabtu 29 Agustus 2026.

Kondisi tersebut akhirnya membuat Denny mengambil keputusan untuk memerankan sendiri karakter Hajime.

Ia mengaku tertarik karena karakter tersebut memiliki kepribadian yang cukup jauh berbeda dengan dirinya. Hajime digambarkan sebagai sosok yang lembut, sabar dan memiliki gaya bicara yang tenang.

Selain membangun karakter yang berbeda dari kepribadiannya, Denny juga harus menghadirkan sosok pria asal Jepang dalam film tersebut.

“Saya tergiur, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama, karena Hajime ini salah satu karakter yang bertolak belakang dengan saya. Beliau sangat soft spoken, sabar, lembut dan juga orang Jepang. Jadi mau tidak mau harus ada unsur-unsur itu di tokoh yang saya perankan,” jelasnya.

Namun, Denny menyampaikannya dengan gaya santai ketika ditanya mengenai proses pendalaman karakter tersebut.

“Pendalaman karakter cukup dua hari saja, aktor terbaik di tahun 2018 loh ini,” ujar Denny sembari bercanda, yang kemudian disambut tawa dari dirinya dan penonton.

Bukan Hanya tentang Hajime dan Fanny

Denny menegaskan, keputusan mengangkat perjalanan Hajime dan Fanny menjadi film tidak hanya didasarkan pada kisah cinta keduanya.

Menurut dia, perjalanan tersebut merepresentasikan pengalaman hidup yang dapat dialami banyak orang. Terlebih, ketika seseorang telah mendapatkan sesuatu yang selama ini diharapkan, tetapi kemudian harus menghadapi ujian yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

“Ini bukan sekadar cerita dari Hajime dan Fanny, tapi adalah cerita yang dituliskan Tuhan lewat mereka berdua,” kata Denny.

Ia menyebut banyak kisah kehidupan dengan persoalan serupa yang terjadi di tengah masyarakat. Namun, tidak semuanya mendapatkan kesempatan untuk dituangkan ke dalam sebuah film.

Karena itu, Denny berharap Baby Udon dapat mengajak penonton kembali melihat makna cinta, harapan dan perjuangan dalam menjalani kehidupan.

“Semua orang pasti mencari kebahagiaan, mencari jawaban dari Tuhan. Pasti punya suami atau pasangan yang sesuai, tapi tidak semua orang siap menjalani ujian,” ujarnya.

Bagi Denny, kisah Hajime dan Fanny menunjukkan bahwa cinta tidak hanya diuji ketika kehidupan berlangsung bahagia. Justru, makna cinta semakin terlihat ketika pasangan harus bersama-sama menghadapi keadaan yang sulit.

“Hajime dan Fanny menjalani kisah yang sampai maut memisahkan. Menurut saya itulah cinta sejati. Ada harapan di dalam, ada perjuangan, ada cinta, yang mana kita sendiri menghadapi itu setiap hari,” tuturnya.

Melalui film tersebut, Denny juga ingin menghadirkan pesan mengenai doa dan keikhlasan. Ia mengajak penonton untuk tetap percaya bahwa setiap kesulitan pada akhirnya akan berlalu, meski manusia tidak selalu mengetahui kapan jawaban atas doa akan datang.

“Saya berharap film ini mampu membuka pikiran kita, membuka rasa kita, bahwa Tuhan akan menjawab doa kita. Semua kesulitan yang kita alami akan berlalu, tapi kita tidak tahu kapan waktunya. Jadi kita harus sepenuhnya berserah diri,” katanya.

Denny Ajak Warga Makassar Saksikan Baby Udon

Dalam kesempatan tersebut, Denny juga mengajak masyarakat Makassar untuk menyaksikan Baby Udon saat film tersebut mulai beredar di bioskop.

Baby Udon dijadwalkan tayang secara serentak di seluruh Indonesia pada 3 September 2026.

“Saya harap Kota Makassar, semua warga Makassar, kanda-kanda dan dinda-dindaku bisa datang nonton Film Baby Udon tanggal 3 September,” ujar Denny.

Menurutnya, film tersebut tidak dibuat hanya untuk mengisahkan kehidupan Hajime dan Fanny. Baby Udon juga ditujukan bagi siapa pun yang sedang menghadapi persoalan dan ujian dalam kehidupannya.

“Saya bikin film ini untuk kita semua, supaya kita bisa selalu mengingat besarnya kuasa Tuhan. Besarnya harapan kita, itu pasti Tuhan akan jawab. Semoga dengan menonton film ini kita dibukakan banyak hidayah,” ucapnya.

Fanny Terlibat dalam Penggarapan Film

Sherly Fanny Kondoh turut terlibat dalam proses produksi Baby Udon. Keterlibatan tersebut dilakukan untuk memastikan cerita yang diangkat ke layar lebar tetap memiliki kesesuaian dengan perjalanan hidup dirinya dan Hajime.

“Keterlibatan saya tentunya mengenai kecocokan dan kesesuaian yang akan diadopsi menjadi alur cerita dalam film,” kata Fanny.

Fanny mengaku bersyukur mendapat kesempatan untuk terlibat dalam proses pembuatan film tersebut. Menurutnya, keterlibatan itu menjadi sesuatu yang tidak selalu diberikan kepada tokoh yang kisah hidupnya diangkat ke layar lebar.

“Saya merasa sangat beruntung pembuatan film ini karena saya terlibat. Biasanya tidak seterlibat itu. Tentu saya merasa bangga dan sangat senang,” ungkapnya.

Fanny berharap Baby Udon tidak hanya menjadi hiburan bagi penonton. Lebih dari itu, ia ingin film tersebut menjadi sumber kekuatan bagi orang-orang yang sedang menghadapi persoalan dalam kehidupannya.

Ia berharap penonton dapat menemukan harapan setelah menyaksikan perjalanan Hajime dan Fanny.

“Saya berharap film ini bisa menjadi medium rasa yang bisa kalian hadirkan untuk memperkuat segala ujian dalam hidup kalian. Saya berharap dari film ini ada harapan yang bisa kalian bawa pulang,” pungkas Fanny.

Baby Udon dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 3 September 2026. Film ini membawa kisah cinta Hajime dan Fanny sebagai pintu masuk untuk berbicara tentang harapan, perjuangan, doa serta keikhlasan dalam menghadapi ujian kehidupan.