Maros, Bineka.co.id – Penentuan nasib status UNESCO Global Geopark (UGGp) Maros-Pangkep resmi dimulai. Dua asesor UNESCO, Soojae Lee dari Korea Selatan dan Xiaoping Qiu dari China, memulai rangkaian revalidasi di kawasan Geopark Maros-Pangkep pada Selasa (28/7/2026).

Selama empat hari, 28-31 Juli 2026, tim asesor akan mengevaluasi berbagai aspek pengelolaan geopark, mulai dari konservasi kawasan, edukasi, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan ekonomi berkelanjutan. Hasil revalidasi ini akan menjadi penentu apakah Maros-Pangkep tetap menyandang status UNESCO Global Geopark.

Pada hari pertama, tim asesor mengawali kunjungan di SDN 2 Unggulan Maros untuk melihat implementasi pendidikan geopark di lingkungan sekolah. Rombongan kemudian meninjau Sekretariat Badan Pengelola Geopark sebelum bergerak menuju Cagar Alam Karaengta.

Selanjutnya, tim mengunjungi Penangkaran Kupu-kupu Bantimurung, Air Terjun Bantimurung, hingga Taman Arkeologi Leang-Leang yang menjadi salah satu situs budaya penting di kawasan karst Maros-Pangkep.

Memasuki siang hingga sore hari, asesor melanjutkan perjalanan menuju Geosite Karst Rammang-Rammang melalui jalur sungai menuju Kampung Berua. Di lokasi tersebut, mereka melihat langsung pengelolaan desa wisata berbasis masyarakat, aktivitas ekonomi warga, hingga atraksi kelelawar saat matahari terbenam.

Rangkaian kegiatan hari pertama ditutup dengan jamuan makan malam dan pertunjukan budaya sebelum tim asesor menggelar evaluasi internal.

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mengatakan tim UNESCO menegaskan tidak ada geopark yang benar-benar sempurna di dunia. Menurutnya, revalidasi bukan sekadar mencari kekurangan, tetapi menjadi bagian dari proses pembinaan agar pengelolaan geopark terus ditingkatkan.

“Menurut mereka tidak ada geopark yang sempurna di seluruh dunia. Jadi kami akan terus didampingi dan dibantu untuk melakukan berbagai pembenahan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Maros, Suwardi Sawedi, mengatakan Pemerintah Kabupaten Maros telah mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk menghadapi proses revalidasi tersebut.

“Kita sudah siapkan segala upaya dan daya untuk melakukan revalidasi agar Maros-Pangkep bisa tetap menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark,” katanya.

Menurut Suwardi, status UNESCO Global Geopark merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar bagi masyarakat Maros dan Pangkep. Kawasan karst Maros-Pangkep dinilai memiliki nilai geologi yang sangat istimewa di tingkat dunia.

“Karena ini bagian dari warisan dunia di Maros dan Pangkep yang luar biasa. Dari 12 UNESCO Global Geopark yang telah ditetapkan di Indonesia, Maros ini dari guguran karstnya terluas dan terpanjang di dunia setelah China Selatan. Segala keindahan, flora fauna yang bagian dari kita menjaga sebaik-baiknya agar tetap menjadi warisan dunia,” ujarnya.

Ia menegaskan, keberhasilan mempertahankan status UNESCO tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga keterlibatan masyarakat.

“Pelibatan masyarakat kita maksimalkan, pemberdayaan, dan status ini tetap kita sandang maka kita akan sangat berbangga dan bersyukur. Pemkab Maros menyambut dengan kebanggaan yang luar biasa,” katanya.

Menurut Suwardi, pemberdayaan pelaku UMKM menjadi salah satu indikator penting dalam pengelolaan geopark. Karena itu, pemerintah daerah membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berusaha di kawasan wisata.

“Pelibatan UMKM di tiap destinasi khususnya di Maros kita berikan peluang melibatkan dan mempersilahkan bagaimana bisa melakukan usaha,” katanya.

Ia mencontohkan para pedagang suvenir dan makanan di kawasan Bantimurung tidak dipungut biaya untuk berjualan.

“Di Bantimurung ini contohnya penjual suvenir, makanan dan lainnya kita tidak kenakan biaya ataupun tarif tertentu untuk masuk berusaha menjual. Cuma kita berharap karena ini bagian yang harus kita jaga bersama termasuk kepada UMKM,” tuturnya.

Suwardi juga mengungkapkan sektor pariwisata Maros menunjukkan tren positif sepanjang 2026. Meski sempat terdampak cuaca ekstrem pada Januari-Februari serta penurunan kunjungan selama Ramadan, jumlah wisatawan kembali meningkat setelah Idulfitri, Iduladha, hingga musim libur sekolah.

“Dibandingkan tahun 2025 sebelumnya, kita di tahun 2026 kenaikan PAD sangat signifikan di sektor pariwisata,” katanya.

Hingga Juli 2026, pendapatan dari penjualan tiket destinasi wisata di bawah pengelolaan pemerintah daerah telah mendekati Rp2,5 miliar. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai sekitar Rp1,3 miliar.

Jumlah kunjungan wisatawan juga meningkat hingga rata-rata sekitar 5.000 orang per hari.

Menurut Suwardi, peningkatan tersebut turut didorong kebijakan penurunan tarif tiket masuk bagi pelajar dan mahasiswa hingga 50 persen.

“Sekarang khusus pelajar weekday Rp15 ribu dan weekend Rp20 ribu, jadi ini daya tarik yang membuat orang bergairah ke Bantimurung karena tiket sudah diturunkan 50 persen,” ujarnya.