Makassar, Bineka.co.id Momentum kelulusan 600 mahasiswa Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali turut menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas di tengah bencana gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pada Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026 di Hotel Dalton Makassar, Kamis (20/8/2026), UIM Al-Gazali memberikan santunan secara simbolis kepada mahasiswa asal NTT yang terdampak gempa.

Langkah tersebut menjadi bentuk perhatian kampus terhadap kondisi mahasiswa yang berasal dari wilayah terdampak bencana. Bagi UIM Al-Gazali, mahasiswa tidak hanya dipandang sebagai bagian dari sivitas akademika, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar universitas.

Rektor UIM Al-Gazali, Prof Muammar Bakry, mengatakan pemberian santunan merupakan bentuk kebersamaan dan empati kampus kepada mahasiswa yang sedang menghadapi situasi sulit.

“Tentu itu bagian dari kebersamaan dan bagian dari empati kita pada anak-anak kita sebagai satu keluarga besar UIM. UIM seperti rahim bagi seluruh civitas academica,” ucap Prof Muammar saat ditemui awak media selepas wisuda.

Muammar menyebut terdapat puluhan mahasiswa asal NTT yang saat ini menempuh pendidikan di UIM Al-Gazali. Sebagian di antaranya terdampak langsung maupun tidak langsung oleh gempa yang mengguncang wilayah tersebut.

Menurutnya, kepedulian terhadap mahasiswa terdampak bencana merupakan bagian dari nilai yang ingin dibangun di lingkungan kampus. Pendidikan, kata dia, tidak semata-mata berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga bagaimana membangun kepedulian terhadap sesama.

Semangat tersebut turut tercermin dalam tema wisuda tahun ini, yakni “Wisudawan Merdeka dan Rahmatan Lil ‘Alamin”.

Tema tersebut dipilih bertepatan dengan momentum peringatan kemerdekaan Indonesia dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Muammar berharap para lulusan mampu membawa nilai kemerdekaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan.

“Ya, momen kemerdekaan kita harapkan bahwa para alumni UIM itu bisa membawa nilai-nilai kemerdekaan bagi bangsa dan negara, termasuk bagaimana mentransformasi ilmu pengetahuan dalam kehidupan yang nyata dan riil sehingga bisa berdampak di tengah masyarakat,” katanya.

Menurut Muammar, kelulusan bukan menjadi akhir dari proses pendidikan. Para alumni justru diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah untuk menjawab persoalan di tengah masyarakat.

“Ya, kita berharap para alumni ini bisa memanfaatkan ilmu yang dimiliki sehingga betul-betul dirasakan oleh masyarakat, dan tentu harapan itu sesuai dengan orang tua dan wali para wisudawan,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi semakin kuat karena sejumlah wisudawan UIM juga menjalani proses pendidikan dalam kondisi kehilangan orang tua.

Muammar mengungkapkan terdapat dua alumni yang orang tuanya meninggal dunia saat mereka masih menjalani perkuliahan.

Ia memandang keberhasilan anak menyelesaikan pendidikan dan kemudian mengamalkan ilmunya dapat menjadi bagian dari amal jariyah bagi orang tua yang telah meninggal.

“Bahkan di antara wisudawan tadi ternyata di tengah kuliahnya itu meninggal orang tuanya. Ini saya kira bukan berarti bahwa mereka yang telah mendahului, para orang tua yang telah mendahului tidak menikmati anak-anaknya ilmu pengetahuan yang dimiliki, tapi justru dengan kepergiannya mereka akan menikmati hasil dari amal jariyah yang dilakukan oleh anak-anaknya dari ilmu pengetahuan dan kebaikan-kebaikan yang ditinggalkan,” katanya.

“Ada beberapa tadi, dua yang dari mahasiswa kita ini, dari alumni. Ya,” lanjutnya.

Bagi UIM Al-Gazali, rangkaian wisuda tersebut akhirnya tidak hanya menjadi perayaan atas capaian akademik para mahasiswa, tetapi juga menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa nilai pendidikan dapat diwujudkan melalui kepedulian, solidaritas, dan kebermanfaatan bagi orang lain.