Bineka.co.id, Jakarta – Pebalap muda binaan Astra Honda Racing Team (AHRT), Veda Ega Pratama, mengaku sempat terkejut sekaligus bahagia setelah menerima kabar resmi bahwa dirinya akan naik kelas ke Grand Prix Moto3 mulai musim 2026. Bagi pebalap asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini adalah mimpi besar yang menjadi kenyataan lebih cepat dari perkiraan.

“Ketika mendengar kabar saya akan membalap di Moto3 rasanya gembira, senang, dan kaget karena kejuaraan dunia Moto3 memang menjadi target saya. Jadi senang banget saat mendengar itu,” ujar Veda di Sirkuit Barcelona, Spanyol, usai balapan JuniorGP seri keenam.

Veda menuturkan bahwa dirinya sudah lama memimpikan bisa bertarung di lintasan Grand Prix. “Ini salah satu mimpi saya, bisa balapan di kejuaraan dunia di kelas Moto3. Dulu saya hanya bisa melihat dari service road saat ikut Asia Talent Cup atau Red Bull Rookies Cup. Sekarang, saya bakal balapan di sana dan bertemu pebalap hebat dari seluruh dunia. Jadi senang sekali dan gembira,” katanya.

Meski berasal dari daerah tanpa sirkuit, semangat Veda untuk terus berkembang tidak pernah surut. “Bagi saya, tidak ada yang tidak mungkin meskipun saya lahir di desa di Gunungkidul dan di sana tidak ada sirkuit. Tapi buktinya, saya bisa jadi pebalap. Menurut saya, tidak ada yang tidak mungkin,” tegasnya.

Perjalanan karier Veda menuju Moto3 terbilang pesat, namun bukan instan. Ia meniti jalur pembinaan sejak usia dini. Setelah menjuarai Asia Talent Cup 2023, Veda melanjutkan karier ke Eropa lewat Red Bull Rookies Cup 2024 dan finis di posisi kedelapan. Musim berikutnya, ia tampil konsisten hingga menjadi runner-up Red Bull Rookies Cup 2025, hasil yang mengantarkannya ke Grand Prix Moto3 musim depan.

“Awalnya saya kira baru bisa naik ke Moto3 setelah 18 tahun karena regulasi umur. Tapi ternyata tahun ini saya bisa tiga besar di Red Bull Rookies Cup, dan alhamdulillah tahun depan bisa langsung ke Moto3. Enggak terbayang sih, tapi bangga banget,” ujar Veda, Sabtu (1/11/2025).

Naik ke Moto3 tentu menghadirkan tantangan baru. Veda menyadari bahwa persaingan di level ini jauh lebih ketat dibandingkan JuniorGP atau Red Bull Rookies Cup. Ia menargetkan adaptasi cepat dengan tim baru dan berupaya konsisten finis di sepuluh besar musim depan.

“Tantangannya pasti lebih berat karena levelnya lebih tinggi. Tapi itu memotivasi saya untuk berlatih lebih keras dan disiplin. Targetnya semoga bisa masuk sepuluh besar dan belajar di setiap sirkuit,” ucapnya.

Veda juga menegaskan peran besar Astra Honda Racing School (AHRS) dalam membentuk karakternya sebagai pebalap profesional. “Astra Honda Racing Team sudah mendukung saya sejak umur sembilan tahun. Dari AHRS saya belajar jalannya, mulai dari latihan, disiplin, komunikasi dengan tim, sampai memahami aturan balap di setiap kompetisi,” kata Veda.

Selain kemampuan teknis, lanjutnya, aspek nonteknis seperti pola makan, latihan fisik, hingga istirahat juga menjadi kunci untuk menembus level dunia. “Pokoknya terus semangat, disiplin, dan maksimalkan kesempatan yang diberikan Astra Honda. Semua pebalap muda di AHRS pasti tahu jalan yang harus dilalui untuk sampai ke Grand Prix,” ujar Veda menutup.