Makassar, Bineka.co.id – Di tengah fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM), peta persaingan industri otomotif justru memperlihatkan arah yang semakin kontras. Kenaikan harga Solar tidak otomatis mengurangi minat terhadap kendaraan diesel, namun tiap produsen membaca situasi pasar dengan strategi berbeda. Ada yang tetap mempertahankan diesel sebagai kekuatan utama, sementara sebagian lain mulai mempercepat langkah menuju elektrifikasi.
Toyota menjadi salah satu merek yang masih melihat diesel sebagai segmen penting. Kalla Toyota mencatat tren positif pada pemesanan kendaraan diesel, terutama untuk model seperti Toyota Hilux Double Cab, Toyota Kijang Innova Diesel, dan Toyota Fortuner. Di tengah perubahan harga BBM, kendaraan diesel Toyota masih mendapat respons kuat, khususnya dari konsumen yang membutuhkan kendaraan multifungsi dan daya tahan tinggi.
“Kami melihat bahwa pelanggan setia Kalla Toyota sangat memahami kualitas. Bagi mereka Toyota Hilux Double Cabin, Innova Diesel, dan Fortuner bukan sekadar alat transportasi, melainkan partner dalam menjalankan usaha dan pendukung gaya hidup. Itulah mengapa kenaikan harga Solar tidak menyurutkan minat beli, karena ketangguhan, performa, dan durabilitas unit yang tetap menjadi prioritas utama,” ujar Suliadin selaku Marketing General Manager Kalla Toyota.
Data internal perusahaan menunjukkan pemesanan kendaraan diesel hingga pertengahan April 2026 meningkat 40 persen. Kenaikan tertinggi tercatat pada Innova Diesel yang tumbuh 140 persen, disusul Hilux Double Cabin sebesar 25 persen dan Fortuner sebesar 5 persen.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa diesel masih memiliki basis konsumen yang kuat, kendati brand asal negeri sakura itu juga memiliki deretan line up mobil hybrid. Bagi sebagian pengguna, kendaraan diesel tidak hanya dipilih karena efisiensi bahan bakar, tetapi juga karena daya tahan mesin, kemampuan menghadapi perjalanan jarak jauh, serta nilai jual kembali yang dinilai stabil.
Berbeda dengan Toyota, Hyundai mengambil pendekatan yang lebih berorientasi pada transisi teknologi. BM Galesong Hyundai Pettarani, Citra Randang, menyebut pertumbuhan Hyundai saat ini lebih banyak ditopang kendaraan berbahan bakar bensin efisien dan elektrifikasi dibanding diesel.
Menurutnya, Hyundai mulai mengurangi ketergantungan terhadap mesin diesel di sejumlah model global. Salah satu contohnya terlihat pada Hyundai Santa Fe yang kini lebih diarahkan ke varian hybrid, sementara opsi diesel mulai dikurangi di beberapa pasar.
“ Diesel Hyundai saat ini tidak jadi produk andalan. Pilihan model makin terbatas Penjualannya cenderung stagnan atau turun. Yang justru naik Hybrid (lagi naik kencang), EV (seperti Hyundai Ioniq 5), Bensin efisien (Stargazer, Creta),” bebernya kepada Bineka.co.id melalui pesan singkat, Rabu 29 April 2026.
Strategi global Hyundai berfokus pada pengembangan kendaraan hybrid dan listrik. Dalam arah tersebut, diesel tidak lagi menjadi produk utama. Pilihan model diesel semakin terbatas dan pertumbuhannya cenderung stagnan dibanding segmen elektrifikasi.
Perbedaan strategi Toyota dan Hyundai menunjukkan bahwa industri otomotif sedang berada pada fase transisi. Toyota mempertahankan diesel karena masih relevan dengan kebutuhan pasar saat ini, sementara Hyundai memilih membangun posisi lebih awal pada kendaraan masa depan.
Pandangan serupa juga disampaikan Roelof Lambers selaku Regional Director RMA Indonesia. Menurutnya, keputusan pembelian kendaraan kini tidak lagi hanya dipengaruhi harga bahan bakar, tetapi juga nilai jangka panjang yang ditawarkan sebuah produk.
“Keputusan pembelian tidak hanya ditentukan oleh biaya bahan bakar, tetapi juga nilai jangka panjang dan kepercayaan terhadap kendaraan,” jelasnya, Jumat (24/4).
Perbedaan langkah dua produsen besar tersebut memperlihatkan bahwa pasar otomotif tidak bergerak dalam satu pola. Diesel masih bertahan karena kebutuhan konsumen belum sepenuhnya berubah, sementara elektrifikasi terus tumbuh sebagai arah baru industri global. Di tengah dinamika itu, produsen tidak hanya berlomba menjual kendaraan, tetapi juga menentukan posisi mereka dalam membaca masa depan pasar.

Tinggalkan Balasan