Makassar, Bineka.co.id Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama industri perbankan nasional memperkuat komitmen dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon melalui penguatan manajemen risiko iklim, peningkatan ketahanan sektor perbankan, serta perluasan kerja sama internasional di bidang pembiayaan berkelanjutan.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam penyelenggaraan The 2nd Indonesia Climate Banking Forum (ICBF): Climate Risk Management and Banking Resilience to Support Climate Finance Investment yang digelar di Jakarta, Kamis.

ICBF kedua ini merupakan kelanjutan dari forum perdana pada 2024 yang ditandai dengan peluncuran Climate Risk Management & Scenario Analysis (CRMS) sebagai tonggak awal pengelolaan risiko perubahan iklim secara terstruktur dan komprehensif di sektor perbankan.

Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa transformasi sistem keuangan Indonesia agar selaras dengan agenda iklim merupakan bagian integral dari dukungan OJK dan sektor jasa keuangan terhadap strategi pembangunan nasional.

Ia menyambut dukungan Pemerintah Britania Raya dan Kedutaan Besar Britania Raya dalam mendorong pembentukan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim bersama OJK. Kolaborasi tersebut diharapkan mempercepat inovasi pembiayaan transisi sekaligus memperdalam kemitraan strategis Indonesia–Britania Raya, sebagaimana kembali ditegaskan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

Menurut Friderica, manajemen risiko iklim dipandang sebagai komponen strategis dan berorientasi ke depan dalam arsitektur pengawasan. Perannya menjadi jembatan untuk menerjemahkan kebijakan transisi nasional dan sinyal global ke dalam tata kelola sektor keuangan, manajemen risiko, serta alokasi pembiayaan.

Pada kesempatan tersebut, OJK bersama Pemerintah Inggris meluncurkan Indonesia–UK Strategic Partnership Working Group on Climate Financing sebagai penguatan kerja sama strategis kedua negara dalam memobilisasi pendanaan guna mendukung agenda keuangan berkelanjutan.

Pembentukan kelompok kerja ini merupakan tindak lanjut dari kemitraan strategis Indonesia–Inggris yang disepakati Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Januari lalu.

Peresmian Working Group dilakukan oleh UK Minister for the Indo-Pacific Seema Malhotra, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey, Pjs Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, serta Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae.

Permodalan Kuat

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan bahwa sektor perbankan tetap memiliki ketahanan permodalan yang memadai untuk menyerap tekanan terkait iklim dalam skenario transisi yang dikelola dengan baik. Hal ini tercermin dari rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) yang tetap berada di atas ketentuan regulasi.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa perbankan Indonesia tidak hanya tangguh terhadap risiko iklim, tetapi juga berada pada posisi yang kuat untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.

“Sistem keuangan yang tangguh merupakan fondasi utama untuk memastikan stabilitas jangka panjang, pertumbuhan berkelanjutan, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Dian.

Dalam kesempatan yang sama, UK Minister for the Indo-Pacific Seema Malhotra menegaskan bahwa tantangan risiko iklim memerlukan respons kolektif lintas otoritas dan pelaku industri.

Menurutnya, bank, regulator, dan investor sama-sama terpapar terhadap guncangan iklim. Karena itu, regulator keuangan dan sektor perbankan perlu bergerak selaras, dengan kecepatan dan pemahaman yang sama terhadap risiko ke depan.

Seema juga menekankan bahwa ketahanan sistem keuangan bukan hanya soal mitigasi risiko, melainkan juga kemampuan menangkap peluang ekonomi hijau. Ia menyatakan bahwa risiko iklim dapat diubah menjadi peluang melalui kerja sama erat serta pembukaan akses pembiayaan bagi masa depan yang lebih kuat dan hijau.

Rilis Dua Laporan Strategis

Selain peluncuran Working Group, OJK merilis dua publikasi strategis, yakni:

  1. Climate Risk and Banking Resilience Assessment (CBRA); dan
  2. Indonesia Banking Sustainability Maturity Report 2025 (SMART).

CBRA merupakan kerangka asesmen yang dikembangkan OJK bersama Pemerintah Australia dan Prospera untuk mengukur dampak risiko iklim terhadap ketahanan sektor perbankan secara forward-looking. Kerangka ini menyediakan referensi berbasis sains bagi industri dalam menyusun strategi transisi serta memperkuat resiliensi terhadap risiko iklim jangka menengah dan panjang.

Sementara itu, SMART memuat hasil penilaian tingkat kematangan penerapan keuangan berkelanjutan di sektor perbankan nasional. Laporan ini diharapkan menjadi rujukan dalam penyusunan arah kebijakan pengawasan agar implementasi keuangan berkelanjutan berjalan lebih terstruktur, terukur, dan selaras dengan agenda transisi nasional.

Ke depan, ICBF direncanakan menjadi forum berkala sebagai wadah koordinasi dan kolaborasi antara otoritas, kementerian, lembaga pemerintah, serta industri jasa keuangan. Forum ini diharapkan mampu memberikan arah kebijakan keberlanjutan yang terukur sekaligus membangun kepercayaan pasar guna mendorong pembiayaan iklim dan keberlanjutan secara konsisten.