Bineka.co.id – Nama Kafka Bintang Timora semakin dikenal publik setelah mengikuti Clash of Champions (COC) Ruangguru Season 3. Mahasiswa kedokteran militer Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan) tersebut mencuri perhatian berkat kemampuan memorinya yang luar biasa. Namun, di balik sederet pencapaiannya, terdapat kisah tentang keluarga, kemandirian, dan pola pengasuhan yang membentuk Kafka hingga menjadi sosok seperti sekarang terungkap dalam podcast BossMama pada kanal YouTube Sabrina Anggraini 12 Agustus 2026.

Kafka bukan hanya dikenal melalui COC. Sebelumnya, ia telah menorehkan sejumlah prestasi akademik, di antaranya meraih medali perak Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Geografi 2024 dan menjadi finalis kompetisi sains Ruangguru. Kemampuan memorinya juga semakin dikenal ketika ia tampil dalam permainan Lips Recall di COC.

Meski memiliki kemampuan akademik yang menonjol, perjalanan Kafka tidak selalu berjalan lurus. Ia pernah mengikuti bidang matematika dalam persiapan OSN, tetapi gagal melanjutkan karena kondisi kesehatannya menurun menjelang pelaksanaan seleksi. Pada tahun berikutnya, Kafka kemudian mendapat kesempatan memilih bidang lain. Dari beberapa pilihan yang tersedia, ia memilih geografi karena merasa bidang tersebut dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Saya merasa geografi ini yang masih lebih relate sama kehidupan saya sehari-hari ketimbang bidang lain.” – Kafka Bintang Timora.

Menariknya, Kafka mengaku mempelajari geografi hampir dari nol. Ia bahkan sebelumnya tidak memahami sejumlah konsep dasar dalam geografi. Namun, kedekatan materi dengan kehidupan sehari-hari justru membuatnya tertarik untuk terus belajar. Dari ketertarikan tersebut, perjalanan Kafka di bidang geografi kemudian membawanya hingga meraih medali perak OSN 2024.

Bukan Sekadar Mengejar Prestasi

Di balik perjalanan akademiknya, terdapat sosok Bunda Mei yang turut mendampingi Kafka. Dalam podcast tersebut, pembahasan mengenai prestasi Kafka tidak hanya berfokus pada kemampuan sang anak, tetapi juga bagaimana orang tua membangun lingkungan yang mendukung pertumbuhannya.

Bunda Mei menjadi salah satu sosok penting yang mendampingi Kafka dalam berbagai proses. Ketika Kafka mulai dikenal luas setelah COC, ia mengaku terkejut dengan perhatian publik yang datang begitu besar. Namun, ia juga merasa bersyukur karena banyak orang yang memberikan doa dan mengapresiasi prestasi Kafka.

Bagi Kafka, hubungan tersebut tidak berhenti pada dukungan terhadap pendidikan dan prestasi. Ia terbiasa berdiskusi dengan orang yang lebih dewasa ketika menghadapi persoalan. Menurutnya, pengalaman yang dimiliki orang yang lebih tua dapat membantu menghadirkan lebih banyak sudut pandang dan solusi. Kebiasaan tersebut kemudian membuat Kafka semakin terbiasa berbicara dengan bundanya.

Dari sinilah terlihat bahwa pola pengasuhan yang diterima Kafka bukan sekadar tentang mendorongnya menjadi anak berprestasi. Ada ruang untuk berdiskusi, mencoba, memilih, dan belajar dari proses.

Kemandirian yang Tumbuh dari Kesadaran

Salah satu bagian paling menarik dari kisah Kafka adalah bagaimana ia mulai memiliki kesadaran untuk mandiri. Ia menceritakan kehidupan keluarganya yang terdiri atas lima orang dengan kondisi rumah yang tidak besar. Dari keseharian tersebut, Kafka melihat bagaimana bundanya mengurus rumah dan keluarga.

Hal itu kemudian menumbuhkan pemikiran dalam dirinya.

“Kok tega ngelihat Bunda saya kerja sendirian?”

Kafka menyadari bahwa kelak sebagai seorang laki-laki dan calon kepala keluarga, ia perlu memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri dan rumah tangga. Ia tidak ingin terus bergantung kepada perempuan untuk pekerjaan domestik.

Kesadaran tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa kemandirian Kafka tidak semata-mata dibentuk melalui tuntutan dari orang tua, tetapi juga tumbuh dari pengamatan, pengalaman, dan kesadaran yang muncul dalam dirinya sendiri.

Orang Tua sebagai Tempat Pulang

Di balik sosok Kafka yang dikenal cerdas dan berprestasi, ada hubungan emosional yang sangat dekat antara dirinya dan orang tua.

Kafka menggambarkan orang tuanya dengan sebuah perumpamaan sederhana, tetapi sangat dalam.

“Kalau menurut saya, orang tua tuh kayak rumah. Jadi kalau saya capek, saya pulang ke rumah. Kalau saya ada masalah, saya pulang ke rumah.”

Kalimat tersebut seolah memperlihatkan bahwa bagi Kafka, rumah bukan sekadar tempat tinggal. Orang tua menjadi ruang aman untuk kembali ketika menghadapi kelelahan maupun persoalan.

Hubungan tersebut juga terlihat ketika Kafka harus menentukan pilihan pendidikan. Sejak kecil, Kafka telah memiliki keinginan menjadi dokter. Meskipun sang kakek sempat mendorongnya untuk masuk Akademi Militer, Kafka tetap memiliki keinginannya sendiri untuk menjadi dokter.

Ketika kemudian mengetahui adanya program kedokteran di Unhan yang menawarkan beasiswa sekaligus pendidikan semi-militer, Kafka mempertimbangkannya dan terlebih dahulu berdiskusi dengan bundanya.

Pilihan tersebut menunjukkan bahwa dalam perjalanan Kafka, orang tua hadir sebagai tempat berdiskusi dan meminta pertimbangan, bukan sekadar sebagai pihak yang menentukan seluruh pilihan hidupnya.

Prestasi Bukan Akhir dari Perjalanan

Kisah Kafka memperlihatkan bahwa kemampuan dan prestasi memang dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan seseorang. Namun, di balik pencapaian tersebut terdapat proses panjang: mencoba, gagal, menemukan minat, belajar, berdiskusi, hingga berani mengambil keputusan.

Perjalanan Kafka juga menunjukkan bahwa anak berprestasi tidak selalu lahir dari tuntutan untuk terus menjadi yang terbaik. Dukungan keluarga, ruang untuk menemukan minat, komunikasi, serta kebiasaan yang dibangun sejak kecil dapat menjadi bagian dari proses tumbuhnya kemandirian.

Pada akhirnya, mungkin inilah salah satu hal paling menyentuh dari kisah Kafka dan Bunda Mei: seorang ibu yang mendampingi anaknya tumbuh, dan seorang anak yang perlahan belajar berdiri dengan kakinya sendiri tanpa kehilangan tempat untuk pulang.