Makassar, Bineka.co.id – Riset perguruan tinggi ke depan didorong semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat desa. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan penelitian tidak lagi hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi harus menghasilkan solusi nyata bagi persoalan yang dihadapi daerah.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, M. Fauzan Adziman, saat Sosialisasi Arah Penguatan Kebijakan Riset dan Pengembangan Perguruan Tinggi bersama LLDikti Wilayah IX serta civitas akademika Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.

Fauzan mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah dialog untuk menyusun arah riset menuju 2027 sekaligus menyerap aspirasi dari perguruan tinggi agar program penelitian semakin berdampak bagi masyarakat.

“Hari ini kami melakukan dialog dengan LLDikti Wilayah IX dan civitas akademika Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara. Yang hadir luring tadi sekitar 100 lebih, sekitar 300 secara daring. Ini persiapan menjelang riset kita tahun 2027,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah ingin mendorong para peneliti dan dosen menyusun penelitian berdasarkan kebutuhan riil masyarakat, termasuk kebutuhan pemerintah daerah, sehingga hasil riset dapat diterapkan dan memberi manfaat langsung.

“Jadi kami buka ini sebagai upaya komunikasi mendengarkan bagaimana program-program bisa kita kembangkan lebih baik. Dan juga riset kita ini berdampak ke masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan, paradigma riset kini diarahkan dari sekadar menghasilkan publikasi ilmiah menuju inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Hasil penelitian diharapkan melahirkan produk, teknologi, hingga paten yang mendukung pembangunan daerah.

Selain itu, riset juga diintegrasikan dengan program pengabdian kepada masyarakat melalui keterlibatan mahasiswa. Menurut Fauzan, mahasiswa dapat berkontribusi membawa solusi bagi berbagai persoalan di desa melalui kegiatan yang sejalan dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN), baik dalam bidang sosial maupun vokasi.

Kemdiktisaintek juga memberikan perhatian khusus pada wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Program riset di kawasan tersebut akan melibatkan kolaborasi antara perguruan tinggi besar dengan kampus yang berada di sekitar lokasi sasaran.

“Jadi sekarang dana riset itu tidak sendiri-sendiri, tapi dia bisa kolaborasi lintas perguruan tinggi dan bermitra dengan daerah,” ujarnya.

Fauzan mencontohkan sejumlah isu yang menjadi prioritas riset di daerah, di antaranya penanganan stunting, pengembangan produk berbasis rumput laut di kawasan pesisir, pengembangan transportasi seperti kereta api di Sulawesi, hingga mitigasi dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian.

Ia menilai perubahan iklim, termasuk anomali El Nino, menjadi tantangan serius bagi masyarakat desa karena berdampak langsung terhadap hasil panen dan ketahanan pangan.

“Nah ini juga di Sulawesi kita juga melihat perlu untuk diantisipasi misalnya El Nino yang anomali nya tinggi sehingga masyarakat tidak bisa antisipasi. Ini juga mempengaruhi kemampuan pertanian. Jadi bagaimana kalau El Nino kan panas, bagaimana hasil panen itu masih bisa tetap dikendalikan. Jadi kampus-kampus kita kerahkan lakukan riset untuk mencari solusi,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, setiap program riset di wilayah 3T akan didampingi perguruan tinggi yang lebih besar sebagai kampus pembina. Kolaborasi tersebut juga melibatkan pemerintah daerah agar hasil penelitian dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam menyelesaikan persoalan seperti kemiskinan, pengelolaan pertanian, hingga pengembangan potensi ekonomi desa.

Untuk mendukung program tersebut, Kemdiktisaintek menyediakan pendanaan riset selama satu tahun. Namun, Fauzan menegaskan keberlanjutan program sangat bergantung pada sinergi dengan pemerintah daerah sejak tahap perencanaan.

Ia menyebut salah satu skema pendanaan yang disiapkan pemerintah adalah Program Kosabangsa, yang mendorong kolaborasi perguruan tinggi dalam menghasilkan solusi berbasis riset bagi masyarakat dan pembangunan daerah.