Jakarta, Bineka.co.id – Di tengah meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital, kesadaran menjaga rekam jejak kredit menjadi semakin penting. Catatan kredit kini tidak hanya memengaruhi akses pembiayaan, tetapi juga mulai diperhatikan dalam proses rekrutmen kerja di sejumlah sektor industri.
Banyak masyarakat, khususnya lulusan baru, belum menyadari bahwa riwayat pembayaran pinjaman dapat berdampak pada peluang karier. Tunggakan kecil dari layanan paylater maupun pinjaman daring yang tidak dibayar tepat waktu dapat tercatat sebagai kredit bermasalah.
Kondisi tersebut berpotensi menjadi pertimbangan tambahan bagi perusahaan saat menilai calon karyawan. Rekam jejak keuangan yang kurang baik kerap dipandang sebagai indikator lemahnya pengelolaan finansial pribadi.
Hal ini juga menjadi kendala yang dirasakan oleh salah satu pelamar kerja bernama Nanang (24). Pria asal Kabupaten Soppeng itu merantau ke Kalimantan untuk mencari peruntungan. Kendati, beberapa perusahaan menolaknya karena catatan pinjol saat masih kuliah.
“Iye karena dulu pernah cicil untuk hape, sama nonton beberapa konser dan film, kemudian sering telat bayar sampai beberapa bulan. Mungkin karena itu,” ungkapnya saat dihubungi Bineka.co.id, Rabu 29 Maret 2026.
Dilansir dari laman resmi JobStreet, rekam jejak kredit melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) mulai diperhatikan oleh sejumlah perusahaan dalam proses rekrutmen, meski bukan menjadi syarat wajib secara regulasi. Awalnya, pengecekan kredit hanya digunakan untuk menilai kelayakan pengajuan pinjaman, namun kini sebagian perusahaan menjadikannya sebagai indikator tambahan dalam evaluasi kandidat.
SLIK memungkinkan perusahaan atau lembaga keuangan melihat riwayat kredit seseorang, termasuk cicilan berjalan, kelancaran pembayaran, skor kredit, hingga catatan kredit macet.
Dalam praktiknya, pengecekan rekam jejak kredit umumnya dilakukan pada sektor yang berkaitan dengan pengelolaan dana dan tanggung jawab finansial. Industri seperti perbankan, pembiayaan, fintech, asuransi, hingga perusahaan dengan transaksi keuangan besar disebut lebih sering menjadikan riwayat kredit sebagai indikator tambahan.
Catatan kredit yang baik dinilai dapat mencerminkan kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan mengelola kewajiban. Sebaliknya, riwayat tunggakan berat dapat menjadi perhatian karena dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas finansial maupun integritas seseorang dalam menjalankan pekerjaan.
Berdasarkan tingkat kolektibilitas kredit, status lancar hingga dalam perhatian khusus umumnya masih dianggap aman. Namun, kredit dengan kategori kurang lancar hingga macet dapat menjadi hambatan, terutama bagi pelamar yang membidik posisi di sektor keuangan.
Selain persoalan pinjaman, maraknya penggunaan layanan paylater dan pinjaman daring membuat risiko kredit bermasalah semakin tinggi. Banyak pengguna yang tidak menyadari bahwa tunggakan bernilai kecil sekalipun dapat tercatat dalam sistem dan berdampak jangka panjang.
“SLIK ini bukan hanya untuk orang yang membutuhkan pembiayaan atau kredit, tetapi menjadi salah satu indikator dalam proses rekrutmen,” tegas Kepala Kantor OJK Cirebon, Agus Muntholib.
Ia menilai masih banyak masyarakat yang kurang memahami dampak keterlambatan pembayaran terhadap catatan kredit mereka. Padahal, riwayat finansial yang buruk dapat menjadi kendala, baik dalam akses pembiayaan maupun peluang kerja.
“Masyarakat itu terlalu gampang mungkin dulu, pinjam melalui paylater, melalui pinjaman online, tapi lupa bayar. Meskipun tidak besar kalau kondisinya kualitasnya macet, itu menjadi persoalan,” katanya.

Tinggalkan Balasan