Makassar, Bineka.co.id – Polemik goodie bag peserta Telkomsel Makassar Half Marathon (MHM) 2026 yang ramai diperbincangkan di media sosial mendapat tanggapan langsung dari pihak penyelenggara. Sejumlah peserta sebelumnya mengeluhkan tas peserta yang dinilai tidak sesuai ekspektasi karena dianggap terlalu sederhana dan berbeda dari materi promosi yang beredar sebelumnya.

Race Director Telkomsel Makassar Half Marathon 2026 sekaligus Direktur Idea Race, Safrita Aryana, menjelaskan persoalan tersebut berkaitan dengan komitmen panitia untuk memberdayakan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal di Makassar.

“Karena event ini mendapat stimulus dari APBD, sehingga kami punya beban moral untuk melibatkan UMKM lokal,” ujar Safrita.

Ia mengungkapkan, pada pelaksanaan tahun sebelumnya, produksi goodie bag ditangani vendor dari Jakarta. Namun pada penyelenggaraan tahun ini, panitia memutuskan menggandeng delapan UMKM lokal agar perputaran ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Makassar.

Menurut Safrita, proses produksi dan penyediaan goodie bag sepenuhnya dikerjakan para pelaku UMKM lokal sehingga tidak berada di bawah tanggung jawab langsung race management MHM 2026.

“Tahun lalu ada kritik, kenapa uangnya berputar di Jakarta. Akhirnya tahun ini kami coba melibatkan delapan UMKM lokal,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui kapasitas produksi UMKM lokal masih menjadi tantangan, terutama untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan sekitar 12 ribu peserta.

“Kami sudah antisipasi sejak awal. Tapi memang challenge-nya adalah bagaimana UMKM mampu merespons kebutuhan pasar sebesar ini,” ujarnya.

Safrita meminta publik tidak sepenuhnya menyalahkan pelaku UMKM atas polemik yang muncul. Menurutnya, proses pemberdayaan membutuhkan waktu sekaligus pembelajaran agar pelaku usaha lokal bisa berkembang menghadapi event berskala besar.

“Jangan salahkan UMKM juga, karena ini bagian dari proses pemberdayaan. Mudah-mudahan tahun depan mereka bisa lebih siap,” tuturnya.

Ia menegaskan Makassar Half Marathon tidak hanya berorientasi pada olahraga, tetapi juga diharapkan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat melalui keterlibatan pelaku usaha daerah.

“Komitmen moral kami tetap ingin memberdayakan UMKM lokal. Karena event ini juga harus memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” katanya.

Di sisi lain, Safrita menjelaskan penyelenggaraan event lari berskala nasional membutuhkan biaya operasional yang besar dan tidak sepenuhnya tertutupi dari biaya registrasi peserta.

“Banyak yang mengira bayar registrasi Rp600 ribu itu sudah mahal. Padahal operational cost per pelari bisa mencapai Rp2 juta,” ujarnya.

Menurut dia, biaya pendaftaran peserta rata-rata hanya menutup sekitar 20 persen dari total kebutuhan operasional kegiatan. Sisanya ditopang melalui sponsor dan dukungan berbagai pihak.

“Kalau peserta bayar Rp600 ribu, sebenarnya masih ada sekitar Rp1,4 juta yang harus ditutup dari sponsor dan dukungan lainnya,” jelasnya.

Ia juga menegaskan dukungan dari Pemerintah Kota Makassar lebih banyak digunakan untuk kebutuhan teknis pelaksanaan di lapangan, mulai dari relawan, marshal, petugas lintasan hingga konsumsi peserta dan kru.

“Dana dari pemerintah dipakai untuk volunteer, marshal, petugas, konsumsi, dan kebutuhan teknis lainnya. Bukan masuk ke operasional perusahaan kami,” katanya.

Selain soal goodie bag, Safrita turut menyoroti tingginya antusiasme peserta dari luar daerah terhadap Makassar Half Marathon 2026. Ia menyebut sekitar 69 persen peserta tahun ini berasal dari luar Kota Makassar.

“Kabar soal event ini sudah sampai ke Kalimantan, Papua, Maluku, dan daerah lain di luar Sulawesi Selatan. Mereka merasa ikut race di Makassar lebih efisien dibanding harus ke Pulau Jawa,” ujarnya.

Menurutnya, Makassar Half Marathon kini berkembang menjadi salah satu event lari terbesar di kawasan Indonesia Timur.

“Tahun lalu mungkin peserta luar Makassar sekitar 40 sampai 50 persen. Tahun ini sudah mencapai 69 persen,” katanya.

MHM 2026 berlangsung pada 30–31 Mei 2026 di Kota Makassar dengan kategori lomba 5K, 10K, dan Half Marathon 21K yang diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.