Bineka.co.id – Suasana sebuah pertemuan di Makassar yang semula riuh mendadak berubah menjadi hening dan penuh haru. Hal ini bermula saat Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, tengah menceritakan pengalamannya menyantuni anak yatim di berbagai desa selama bulan Ramadan. Di tengah ceritanya, perhatian Mentan Amran tertuju pada seorang mahasiswi yang tak kuasa membendung air mata karena begitu tersentuh oleh kisah tersebut.

Melihat respons emosional itu, sang tokoh langsung menghampiri mahasiswi tersebut untuk mengajaknya berdialog. Sambil terisak, ia mulai membuka kisah pilu tentang kehidupannya yang kini berstatus yatim piatu. Ia mengungkapkan bahwa saat ini dirinya tinggal bersama kakek dan nenek dari pihak ibunya di Makassar.

Dengan suara bergetar, mahasiswi ini menceritakan momen paling memukul dalam hidupnya saat sang ayah meninggal dunia. Ayahnya, seorang PNS, tiba-tiba terjatuh dan wafat di tempat akibat pecah pembuluh darah otak saat sedang bermain tenis di sela waktu kerja. Tak lama berselang, sang ibu pun menyusul berpulang, meninggalkannya sebagai anak tunggal.

Perjuangan mahasiswi ini untuk melanjutkan kuliah ternyata penuh keterbatasan finansial. Selama ini, biaya SPP/UKT sebesar Rp2.000.000 per semester hanya mengandalkan uang pensiunan almarhum ayahnya yang berkisar satu juta rupiah per bulan. Ia dan neneknya harus berhemat luar biasa demi mengumpulkan uang kuliah tersebut.

Mendengar perjuangan luar biasa anak yatim piatu di hadapannya, sang tokoh langsung tergerak hatinya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghitung total biaya kuliah yang mahasiswi tersebut butuhkan hingga lulus. Untuk jangka waktu 8 semester, ia spontan memberikan dana tunai sebesar Rp20.000.000 agar seluruh biaya kuliahnya langsung lunas.

“Hari ini aku beresin SPP-nya. Kamu pikir belajar aja,” ujar pria tersebut menenangkan. Tak hanya bantuan biaya kuliah, tokoh tersebut juga memberikan kesempatan emas kepada sang mahasiswi untuk magang di kantornya agar ia memiliki bekal pengalaman kerja yang matang setelah lulus nanti.

Ketika ditanya mengenai cita-citanya, mahasiswi tangguh ini mengaku sangat ingin menjadi seorang abdi negara. Mendengar impian tersebut, sang tokoh memberikan dukungan penuh dan mendoakan agar kelak saat dirinya kembali bertugas di Jakarta, ia bisa membantu mahasiswi tersebut meraih karier yang sukses.

Di akhir pertemuan, sang tokoh menyelipkan nasihat spiritual mendalam agar ia tidak pernah putus mendoakan orang tuanya. Ia berpesan agar setiap selesai salat, sang mahasiswi senantiasa membaca Al-Fatihah dan Al-Ikhlas seraya menyebut nama ayah dan ibunya. Nasihat ini menutup momen haru tersebut dengan secercah harapan baru yang cerah. (*)