Makassar, Bineka.co.id – Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Kalimantan dan Sumatra, menjadi perhatian Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi).

Organisasi umat Buddha tersebut memandang krisis lingkungan bukan sekadar persoalan kerusakan alam, melainkan juga menyangkut kemanusiaan dan tanggung jawab moral seluruh umat beragama.

Ketua Umum Permabudhi sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Prof. Philip K. Widjaja, mengatakan kepedulian terhadap lingkungan merupakan kewajiban setiap umat beragama.

Menurut dia, isu lingkungan justru dapat menjadi ruang bersama bagi berbagai agama untuk membangun kerja sama dan memperkuat kerukunan.

“Sebagai umat beragama, perhatian tentang lingkungan itu sesuatu yang wajib,” kata Philip saat ditemui awak media selepas menjadi pembicara dalam Seminar Ekoteologi,rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) III Permabudhi Sulawesi Selatan di Hotel Horison Ultima Kota Makassar, Sabtu 24 Oktober 2026.

Ia menilai, persoalan lingkungan menjadi salah satu isu yang memungkinkan umat lintas agama saling membantu, mendorong, dan menyemangati dalam menghadapi persoalan bersama.

Di tengah karhutla yang berdampak terhadap sejumlah wilayah, Philip mengatakan Permabudhi berupaya mengambil bagian melalui pendekatan kemanusiaan.

Ia mencontohkan bantuan masker bagi masyarakat terdampak di tujuh provinsi yang mengalami kondisi kebakaran paling parah.

Bantuan tersebut disalurkan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk melalui pembagian di pinggir jalan, bukan sekadar dititipkan di fasilitas kesehatan.

“Kita tentu saja tidak bisa bawa air ke hutan untuk menyiram-nyiram. Ya, tapi paling tidak kita bantu untuk menyadarkan masyarakat kita tidak ada yang ikut membakar-bakar. Dan yang kena dampaknya, kita bantu,” ujarnya.

Philip menegaskan, bantuan kemanusiaan tersebut tidak boleh dibatasi oleh perbedaan agama maupun latar belakang penerima.

Menurutnya, siapa pun yang membutuhkan pertolongan harus mendapatkan bantuan.

“Ini suatu tindakan kemanusiaan yang tanpa memilah-milah ini agamanya apa dan itu siapa. Siapa yang membutuhkan, ayo bareng-bareng,” katanya.

Lingkungan dalam Ajaran Buddha

Sementara itu, Ketua Permabudhi Sulawesi Selatan, Yonggris, mengatakan persoalan lingkungan telah menjadi salah satu fokus pengabdian organisasi dalam lima tahun terakhir.

Ia menilai krisis lingkungan sudah berada pada tahap darurat, tetapi kesadaran masyarakat terhadap ancaman tersebut masih perlu diperkuat.

Yonggris mengingatkan bahwa kerusakan alam pada akhirnya akan berdampak langsung terhadap kehidupan manusia.

“Agama hadir untuk manusia, untuk kemanusiaan. Salah satu kebutuhan manusia itu alam harus bagus, sebab kalau alam rusak, manusia juga ikut rusak,” ujarnya.

Menurut dia, misi agama tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesama maupun dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana manusia membangun kehidupan yang selaras dengan alam.

Karena itu, Yonggris memandang persoalan lingkungan sebagai salah satu isu kemanusiaan yang dapat mempersatukan berbagai agama.

Ia juga menjelaskan bahwa kepedulian terhadap alam memiliki landasan dalam ajaran Buddha. Bahkan, terdapat ajaran mengenai larangan bagi para Bhikkhu untuk menebang pohon maupun mencemari lingkungan.

Yonggris menyebut menanam pohon dan memelihara hutan sebagai bagian dari perbuatan kebajikan dalam ajaran Buddha.

“Bahkan, ada satu ajaran Buddha yang mengatakan salah satu dari lima kegiatan kebajikan yang menghasilkan buah kebajikan seperti amal jariah adalah menanam pohon,” katanya.

Ia menambahkan, menjaga lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan berhenti pada pembahasan maupun program yang hanya tertulis di atas kertas.

Kerja Sama Lintas Agama

Lebih jauh, Yonggris menilai persoalan lingkungan dapat menjadi titik temu untuk memperkuat hubungan antarumat beragama di tengah berbagai tantangan sosial.

Menurutnya, komunikasi dan interaksi menjadi kunci untuk menghilangkan prasangka serta membangun kepercayaan di tengah masyarakat yang beragam.

Permabudhi, kata dia, ingin mengambil peran sebagai jembatan yang mempertemukan berbagai potensi umat Buddha dan kelompok agama lain untuk berkolaborasi dalam kegiatan sosial, termasuk perlindungan lingkungan.

Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Philip mengenai program Ecodharma yang dikembangkan Permabudhi.

Philip mengatakan, Ecodharma tidak hanya berbicara mengenai perlindungan hutan, tetapi mencakup perhatian terhadap lingkungan dalam berbagai aspek kehidupan.

“Ecodharma berjalan dengan kesadaran untuk perhatian lingkungan dari segala aspek. Jadi, Ecodharma, aspek eco-nya sendiri sangat luas, bukan hanya hutan, bukan hanya sampah, tapi luas sekali,” jelasnya.

Bagi Permabudhi, krisis lingkungan membutuhkan keterlibatan bersama. Kerusakan alam dan dampaknya terhadap manusia tidak mengenal batas agama maupun wilayah, sehingga penanganannya juga membutuhkan solidaritas lintas kelompok.

Reporter : Andi Alfath