Makassar, Bineka.co.id Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyambangi Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang dikenal sebagai daerah asal Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Kedatangan Gus Kikin berlangsung ketika namanya bersama Nasaruddin Umar semakin mengemuka dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026.

Gus Kikin menyatakan kesiapannya untuk mengikuti tahapan pencalonan tersebut. Namun, ia menegaskan kunjungannya ke Makassar tidak berkaitan dengan upaya membangun manuver politik organisasi.

Menurutnya, agenda tersebut merupakan bagian dari silaturahmi dengan kader dan pengurus NU di Sulsel.

Gus Kikin bahkan mengaku tidak secara khusus memberi tahu Nasaruddin Umar mengenai rencana kedatangannya ke Makassar.

“Enggak, enggak,” kata Gus Kikin saat ditemui seusai menjadi keynote speaker dalam sebuah seminar di Makassar, Jumat malam, 14 Agustus 2026.

Meski tidak mengabarkan secara langsung soal kunjungannya, Gus Kikin mengatakan komunikasi dengan Nasaruddin Umar tetap berlangsung.

Ia menilai perbedaan posisi dalam bursa calon Ketua Umum PBNU tidak seharusnya mengganggu hubungan silaturahmi sesama kader NU.

“Namanya silaturohim harus terus jalan, sama-sama NU, emangnya terus musuhan?,” ujarnya.

Selama berada di Makassar, Gus Kikin juga dijadwalkan bertemu sejumlah sesepuh NU selain bersilaturahmi dengan kader dan pengurus NU di Sulsel.

Pengasuh Pesantren Tebuireng itu juga mengaku tidak mengetahui secara pasti seberapa besar dukungan yang telah diperolehnya dari struktur NU di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan.

“Saya enggak ngitung itu. Kalo mau dipilih, enggak, silakan aja. Siapa aja kalau ditunjuk, siap. Kalau enggak di- enggak dipilih ya enggak apa-apa,” terangnya.

Nama Gus Kikin menjadi salah satu kandidat yang mencuat menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU. Selain dirinya, sejumlah tokoh NU lainnya juga masuk dalam pembicaraan bursa calon.

Di antaranya Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sebagai petahana, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, Pengasuh Pesantren Mamba’ul Ma’arif Jombang KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, serta Bendahara Umum PBNU Gudfan Arif.

Dalam konteks pencalonannya, Gus Kikin sebelumnya menyampaikan gagasan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Qanun Asasi sebagai salah satu pijakan dalam mengelola organisasi NU.

Menurut Gus Kikin, Qanun Asasi merupakan pedoman awal NU yang dirumuskan Hadhratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari. Dokumen tersebut, menurut dia, tidak sebatas menjadi aturan organisasi, tetapi juga mengandung prinsip mengenai keilmuan, adab, kepemimpinan ulama, persatuan, hingga tradisi Jam’iyyah.

“Saya ingin kembali membawa misi menjalankan Qonun Asasi, karena dulu sejak awal NU didirikan itu NU ini bagus, NU ghuyub, kekeluargaan itu luar biasa, dapat ridho Allah,” kata Gus Kikin.

Ia kemudian mendorong agar kondisi organisasi saat ini dibandingkan dengan nilai-nilai yang tertuang dalam Qanun Asasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu diperbaiki dalam tubuh organisasi.

“Kepengurusan yang ada sekarang tentu kita hanya perlu bandingkan dengan Qonun Asasi, karena dulu sudah jalan, sekarang ini nanti kita tinggal cari apa yang perlu diperbaiki,” ujarnya.