Jakarta, Bineka.co.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah di kalangan generasi muda, khususnya santri. Upaya ini dilakukan untuk membangun kemampuan pengelolaan keuangan yang sehat, inklusif, dan sejalan dengan prinsip syariah, sekaligus mendukung pengembangan kewirausahaan santri serta penguatan kemandirian ekonomi umat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK M. Ismail Riyadi yang mewakili Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan OJK Friderica Widyasari Dewi dalam kegiatan Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH). Kegiatan tersebut diselenggarakan OJK bekerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Pondok Pesantren Darunnajah, Selasa (10/3).

Dalam sambutannya, Ismail menekankan pentingnya peran santri dan pondok pesantren dalam memperluas pemanfaatan produk serta layanan keuangan syariah sebagai bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi halal.

“Santri memiliki peran penting sebagai agen perubahan di masyarakat, termasuk dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran terhadap penggunaan produk dan layanan keuangan syariah yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam,” kata Ismail.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Potensi tersebut didukung oleh jumlah penduduk muslim yang besar serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup halal.

Menurutnya, peningkatan literasi keuangan syariah menjadi kunci agar masyarakat dapat memahami, memanfaatkan, serta memperoleh manfaat optimal dari berbagai produk dan layanan keuangan syariah.

Ismail berharap pengetahuan yang diperoleh para santri di pesantren, termasuk pemahaman mengenai keuangan syariah, dapat menjadi bekal untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan umat.

Sementara itu, Ketua Bidang Ekonomi PBNU KH Fahmi Akbar Idries menekankan bahwa santri memiliki peran strategis tidak hanya sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai wirausahawan yang mampu membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi umat.

“Santri harus memiliki keberanian untuk berperan aktif dalam membangun ekonomi umat. Literasi keuangan yang baik akan membantu santri memahami bagaimana mengelola usaha dan memanfaatkan peluang ekonomi secara bijak, sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan SAKINAH di Pesantren Darunnajah meliputi pengenalan keuangan syariah dan edukasi mengenai kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal oleh OJK. Selain itu, peserta juga mengikuti sesi edukasi dari industri jasa keuangan syariah serta pemaparan mengenai pengembangan kewirausahaan santri yang dilanjutkan dengan diskusi interaktif.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pembukaan akses keuangan syariah secara simbolis bagi santri serta peluncuran Modul Pengajaran Kewirausahaan dan Literasi Keuangan Syariah. Modul ini disiapkan sebagai bahan pembelajaran berkelanjutan di lingkungan pesantren dan diharapkan dapat dimanfaatkan oleh jaringan sekolah di bawah lembaga pendidikan Nahdlatul Ulama.

Kegiatan ini diikuti secara langsung oleh ratusan santri, asatidz, wali santri, serta pengurus pesantren Darunnajah. Turut hadir dalam acara tersebut Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Kerukunan Beragama Gus Ulun Nuha serta CEO Pesantren Development sekaligus tokoh muda NU Rozi Ahmad.

Melalui program SAKINAH, OJK menegaskan komitmennya untuk terus memperluas literasi dan inklusi keuangan syariah melalui berbagai program edukasi yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk komunitas pesantren. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah sekaligus memperkuat peran pesantren sebagai pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan.