Bineka.co.id, Makassar – Kasus kebocoran hasil visum RS Bhayangkara Makassar yang menerpa selebgram Makassar, Nira sampai sekarang belum menemui titik terang. Keresahan dan trauma yang menimpa korban dan keluarga menjadi luka yang sulit untuk disembuhkan.
Setelah berbulan-bulan kasus ini berjalan di Polda Sulsel, belum ada progres yang berarti diterima oleh Nira dan keluarga. Saat ia mesti menanggung malu, terduga pelaku masih bisa berleha-leha tanpa ada sanksi yang mereka terima setimpal/
Biasanya hanya ibu dari Nira, Sri Rahayu Usmi ataupun keluarga dan pengacara yang speak up di depan publik. Kini wanita itu senditi yang turun ke jalan dan menyampaikan orasi dan keresahannya di depan Mapolda Sulawesi Selatan, Kamis (12/2/2026) bersama Aliansi Pemerhati Kesehatan berisi praktisi kesehatan, mahasiswa dan tokoh masyarakat yang turut berdemonstrasi.
Dalam pernyataannya, ia menyoroti dugaan kebocoran dokumen visum yang disebutnya berasal dari RS Bhayangkara Makassar.
Berikut isi lengkap pernyataan Nira:
“Saya berdiri di sini bukan karena tidak memiliki kesalahan, namun karena hak hak kemanusian saya telah dicabut. Karena atas aksi confidential (rahasia) yang tersebar luas di publik, bahkan diperjualbelikan seharga kopi yang saya minum sehari-hari,”
“Beberapa orang mengatakan bahwa ini adalah konsekuensi yang harus saya terima, saya menerima, sanksi sosial juga (telah) saya jalani, namun kemudian bukan berarti institusi yang mengeluarkan dan tempat saya melakukan visum boleh lalai dan lepas tanggung jawab atas tanggung jawabnya,”
“5 bulan saya berdiam diri, bahkan permintaan maaf tidak pernah saya dapatkan. Tapi yang datang hanya somasi, yang memperjelas posisi terkait sebagai pihak yang dirugikan,”
“5 bulan saya berusaha melanjutkan hidup walau pun tau foto area intim saya beredar luas. Bukan karena kelalaian saya, bukan, namun karena rentannya keamanan data di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar,”
“Dokter jaga, mahasiswa koas, perawat staf bahkan direktur rumah sakit yang harus bertanggung jawab, masih bisa melanjutkan hidup layaknya tidak ada yang terjadi,”
“Dibandingkan meminta maaf dengan rendah hati, membuka ruang diskusi atau membuka sedikit saja empati, RS Bhayangkara hanya menunjukkan diri secara arogan, memposisikan diri sebagai korban, bahkan melebihi saya yang fotonya tersebar luas dan sempat diperjualbelikan,”
“Karena kelalaian itu, dokumen yang bersifat konfidential itu tersebar luas, karena mereka ini ilegal access, karena menyimpan hasil visum di Google drive dengan cara open accees, bukankah sebuah kecerobohan dan sifat unprofessional?,”
“Foto area privat saya disebarluaskan bahkan diperjual belikan. Ditampilkan di publik namun wajah pelaku tidak pernah muncul. Jumlahnya bahkan menyusut,”
“Beberapa pihak yang memiliki legal access tidak menerima sanksi apapun, bahkan sanksi etik,”
“Sebagai pihak yang hasil visumnya tersebar, saya meminta tiga hal. Pertama, permohonan secara terbuka dari RS Bhayangkara Makassar, beserta semua pihak yang terlibat dalam proses visum saya pada malam kejadian, termasuk dokter jaga, perawat, staf rumah sakit dan mahasiswa koas yang bertugas saat itu,”
“Kedua, transparansi data secara menyeluruh, khususnya mengenai pihak-pihak yang memiliki legal access terkait Google Drive dokumen terkait, guna memastikan kejelasan dan akuntabilitas atas dengan pelanggaran yang terjadi,”
“Ketiga, Pemberhentian dan pemberian sanksi etik yang tegas kepada pihak-pihak yang terbukti terlibat maupun lalai dalam menjalankan tugasnya,”
“Selain itu saya menuntut sikap koperatif penuh dari seluruh pihak terkait dalam proses pidana dan perdata yang sedang dan akan kami tempuh,”
“Oleh karena itu, saya menegaskan bahwa tuntutan ini diajukan demi keadilan, perlindungan hak privasi serta penegakan etika dan profesionalisme dalam hal kesehatan,”
“Saya berharap pihak RS Bhayangkara menunjukkan etikad baik dan tanggung jawab moral atas peristiwa ini. Apabila tidak terdapat respons dan langkah konkret, kami akan menempuh seluruh jalur hukum tanpa pengecualian,” tutup Nira

Tinggalkan Balasan