Bineka.co.id, Lombok – Program bus wisata yang melintas di Pertamina Mandalika International Circuit belakangan menarik perhatian publik. Banyak yang menyebutnya sekadar tur sirkuit, namun di balik itu terdapat konsep global yang telah lama dikenal di dunia motorsport, yakni Circuit Safari atau Sirkuit Safari.
Di Mandalika, konsep tersebut dihadirkan melalui program Mandalika Experience yang dikelola Mandalika Grand Prix Association (MGPA). Program ini memungkinkan pengunjung berkeliling lintasan balap menggunakan bus wisata untuk merasakan langsung karakter sirkuit, mulai dari tikungan, elevasi lintasan, hingga panorama di sekitar trek.
Apa Itu Sirkuit Safari?
Track, Race Electronic, and Motorsport Manager Pertamina Mandalika International Circuit, Muhammad Awallutfi Andhika Putra, menjelaskan bahwa Circuit Safari bukanlah konsep baru atau eksperimen yang dibuat khusus di Mandalika.
“Di dunia balap internasional, membawa bus masuk ke lintasan bukanlah hal yang asing. Pada sejumlah ajang balap bergengsi seperti Super GT di Jepang, terdapat program yang dikenal dengan nama Circuit Safari. Dalam sesi ini, tamu VIP atau penonton khusus diajak berkeliling lintasan menggunakan bus untuk merasakan langsung karakter tikungan, elevasi, dan panjang lintasan sirkuit,” ujar Dhika.
Menurutnya, Circuit Safari merupakan bagian dari circuit experience yang umum diterapkan di sirkuit kelas dunia seperti Suzuka, Fuji Speedway, hingga Silverstone. Tujuannya bukan hanya hiburan, tetapi juga edukasi dan pengenalan sirkuit secara langsung kepada pengunjung.
Lebih menarik lagi, praktik Circuit Safari di sejumlah negara justru dilakukan bersamaan dengan aktivitas balap.
“Menariknya, Circuit Safari kerap dilakukan bersamaan dengan sesi warm-up mobil-mobil balap kelas berat seperti GT500, GT300, hingga Prototype. Artinya, lintasan yang sama secara bersamaan mampu menampung kendaraan balap berperforma ekstrem dan bus penumpang berukuran besar, tanpa mengorbankan keselamatan maupun kualitas aspal. Fakta ini menunjukkan bahwa secara prosedural dan teknis, aktivitas tersebut sudah menjadi standar yang diterima di kancah balap dunia,” kata Dhika.
Ia menegaskan bahwa penerapan Sirkuit Safari di Mandalika berada dalam kerangka praktik internasional.
“Apa yang kami lakukan di Sirkuit Mandalika ini sejatinya berada dalam koridor praktik global tersebut. Bukan eksperimen, melainkan adopsi dari standar operasional sirkuit internasional,” ungkapnya.
Sirkuit Safari Versi Mandalika
Di Mandalika, konsep Circuit Safari dikemas melalui Mandalika Experience agar dapat diakses masyarakat luas, tidak terbatas pada tamu VIP atau pelaku industri otomotif. Pengunjung diajak menyusuri lintasan sepanjang 4,31 kilometer menggunakan bus wisata dengan kecepatan rendah dan pengawasan ketat dari marshal serta tim keamanan sirkuit.
Setiap bus diberikan kesempatan melakukan tiga putaran penuh, melewati sejumlah titik ikonik seperti Tikungan 10 yang menghadap Samudera Hindia, area grandstand, hingga bangunan pit yang menjadi pusat aktivitas balap.
Program ini sekaligus membuka akses baru bagi wisatawan yang selama ini hanya melihat sirkuit dari luar pagar. Kini, publik dapat merasakan langsung atmosfer lintasan MotoGP tanpa harus menunggu agenda balap.
Aman Secara Teknis
Dhika menjelaskan bahwa Circuit Safari di Mandalika tidak hanya mengacu pada praktik global, tetapi juga didukung perhitungan teknik sipil dan fisika yang matang. Aspal Sirkuit Mandalika dirancang untuk menahan tekanan ekstrem balapan MotoGP, sehingga secara teknis aman dilewati bus wisata dengan kecepatan rendah.
“Dengan distribusi tersebut, tekanan riil bus terhadap lintasan Mandalika hanya berada di kisaran 3–4 kg/cm². Angka ini sangat kecil jika dibandingkan dengan kapasitas maksimal aspal Mandalika yang mencapai 150 kg/cm². Bahkan, tekanan bus tersebut tidak sampai 5 persen dari batas kekuatan aspal,” jelasnya.
Tekanan tersebut bahkan hampir setara dengan tekanan ban motor MotoGP dalam kondisi ekstrem.
“Artinya, tekanan yang diberikan oleh bus yang berjalan santai di lintasan hampir setara dengan tekanan yang dihasilkan motor MotoGP saat beraksi di kondisi ekstrem. Jika aspal Mandalika dirancang aman untuk balapan MotoGP, maka secara logis dan teknis, lintasan tersebut sangat aman untuk dilewati bus,” ujar Dhika.
Prosedur Ketat dalam Sirkuit Safari
MGPA juga menerapkan standar operasional prosedur yang ketat dalam setiap pelaksanaan Sirkuit Safari. Seluruh bus wajib menjalani pengecekan kelayakan atau scrutineering dengan prinsip zero leakage sebelum masuk lintasan.
“Lintasan sirkuit menjadi berbahaya bagi pengguna jika terdapat ceceran semua jenis pelumas, oli, dan sejenisnya. Selain berbahaya bagi pengguna, jika terdapat ceceran semua jenis bahan bakar cair seperti bensin, solar, dan minyak tanah, maka berpotensi merusak kualitas aspal,” jelas Dhika.
Bus dilarang berhenti di jalur balap, kecuali di area run-off tertentu yang telah ditentukan. Kecepatan kendaraan juga dibatasi dan dikontrol langsung oleh tim keamanan sirkuit.
Edukasi dan Wisata Motorsport
Direktur Utama MGPA, Priandhi Satria, menilai bahwa Sirkuit Safari di Mandalika merupakan bagian dari upaya memperluas fungsi sirkuit sebagai destinasi wisata motorsport, bukan hanya arena balap.
“Kami memahami adanya kekhawatiran dari masyarakat. Namun perlu dipahami bahwa Sirkuit Mandalika dibangun dengan standar internasional dan setiap aktivitas di lintasan sudah melalui kajian teknis yang matang. Program bus di lintasan ini bukan eksperimen, melainkan praktik yang juga dilakukan di banyak sirkuit dunia,” ujar Priandhi Satria.
Ia menambahkan bahwa kualitas lintasan Mandalika dirancang untuk menghadapi beban dan tekanan jauh di atas kendaraan non-balap.
“Aspal Mandalika dirancang untuk balapan MotoGP yang tekanannya sangat ekstrem. Jika lintasan ini aman untuk MotoGP, tentu aman juga untuk bus yang melintas dengan kecepatan rendah dan pengawasan ketat. Ditambah lagi, kami menerapkan SOP yang sangat ketat untuk menjaga keselamatan dan integritas lintasan,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan